Puisi Chairil Anwar: Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan seorang sastrawan Indonesia yang dianggap sebagai pelopor angkatan 45. lahir di Medan, 26 Juli 1922. Chairil Anwar sempat masuk MULO  namun tidak sampai tamat.

Chairil Anwar pernah menjadi redaktur “Gelanggang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949). Ia meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Hari kematiannya diperingati sebagai Hari Sastra di Indonesia.

Kumpulan sajaknya, Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (1949), Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950). Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986), Derai-derai Cemara (1998), Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide, Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Berikut adalah puisi karya Chairil Anwar dalam Derai-derai Cemara.

Daftar Isi
  • Nisan
  • Penghidupan
  • Diponegoro
  • Tak Sepadan
  • Sia-sia
  • Ajakan
  • Sendiri
  • Pelarian
  • Suara Malam
  • Aku
  • Hukum
  • Taman
  • Lagu Biasa
  • Kupu Malam dan Biniku
  • Penerimaan
  • Kesabaran
  • Perhitungan
  • Kenangan
  • Rumahku
  • Hampa
  • Kawanku dan Aku
  • Bercerai
  • Aku
  • Cerita
  • Di Mesjid
  • Selamat Tinggal
  • Mulutmu Mencubit di Mulutku
  • Dendan
  • Merdeka
  • Kita Guyah Lemah
  • Jangan Kita di Sini Berhenti
  • 1943
  • Isa
  • Doa
  • Sajak Putih
  • Dalam Kereta
  • Siap Sedia
  • Kepada Penyair Bohang
  • Lagu Siul
  • Malam
  • Sebuah Kamar
  • Kepada Pelukis Affandi
  • Dengan Mirat
  • Catetan Th. 1946
  • Buat Album D.S.
  • Nocturno
  • Cerita Buat Dien Tamaela
  • Kabar Dari Laut
  • Senja di Pelabuhan Kecil
  • Cintaku Jauh di Pulau
  • “Betina”nya Affandi
  • Situasi
  • Dari Dia
  • Kepada Kawan
  • Pemberian Tahu
  • Nocturno (manuskrip)
  • Dua Sajak Buat Basuki
  • Malam di Pegunungan
  • Tuti Artic
  • Persetujuan dengan Bung Karno
  • Sudah Dulu Lagi
  • Ina Mia
  • Perjurit Jaga Malam
  • Puncak
  • Buat Gadis Rasid
  • Selama Bulan Menyinari Dadanya
  • Mirat Muda, Chairil Muda
  • Buat Nyoman
  • Aku Berkisar Antara Mereka
  • Yang Terampas dan Yang Putus
  • Derai-derai Cemara
  • Aku Berada Kembali
  • Sajak-sajak Saduran
  • Kepada Peminta-minta
  • Krawang-Bekasi


NISAN
Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta

Oktober 1942

Penghidupan
Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita

Mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurni bahgia
kecil setumpuk
sia­sia dilindung, sia­sia dipupuk

Desember 1942

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semanagt yang tak bisa lari

MAJU

Ini barisan tak bergenderang­berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti 
Sesudah itu mati 

MAJU 

Bagimu Negeri 
Menyediakan api 

Punah di atas menghamba 
Binasa di atas ditinda 

Sungguhpun dalan ajal baru tercapai 
jika hidup harus merasai 

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Februari 1943

Tak Sepadan
Aku kira: 
Beginilah nanti jadinya 
Kau kawin, beranak dan berbahgia 
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk­sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta 
Tak satu pun juga pintu terbuka 

Jadi baik juga kita padami 
Unggunan api ini 
Karena kau tidak ’kan apa­apa
Aku terpanggang tingga rangka 

Februari 1943

Sia­-sia
Penghabisan kali kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan, untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir­menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak­koyak sepi

Februari 1943

Ajakan
Ida
Menembus sudah caya 
Udara tebal kabut 
Kaca hitam lumut 
Pecah pencar sekarang 
Di ruang legah lapang 
Mari ria lagi 
Tujuh belas tahun kembali 
Bersepeda sama gandengan 
Kita jalani ini jalan 

Ria bahgia 
Tak acuh apa­apa
Gembira­girang 
Biar hujan datang 
Kita mandi­basahkan diri 
Tahu pasti sebentar kering lagi

Februari 1943

Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa 
Malam apa lagi 
Ia memekik ngeri 
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala 
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga 
Dalam ketakutan­menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu. Ibu! Ibu!

Februari 1943

Pelarian
I
Tak tertahan lagi 
remang miang sengketa di sini 

Dalam lari 
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga. 

Hancur luluh sepi seketika 
Dan panduan dua jiwa.

II
Dari kelam ke malam
Tertawa­meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
”Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari
Turut saja!”

Tak kuasa­terengkam
Ia dicengkam malam

Februari 1943

Suara Malam
Dunia badai dan topan 
Manusia mengingatkan ”Kebakaran di Hutan”*) 
Jadi ke mana 
Untuk damai dan reda? 
Mati. Barangkali kali ini diam kaku saja 
dengan ketenangan selama bersatu 
mengatasi suka dan suka 
kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar 
Seperti kapal pecah di dasar lautan 
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini. Peleburan dalam Tiada
Dan sekali akan menghadap cahaya 
.........................
Ya Allah! Badanku terbakar­segala samar 
Aku sudah melewati batas
Kembali? Pintu tertutup dengan keras

Februari 1943 

*) Lukisan Raden Saleh

Aku
Kalau sampai waktuku
’Ku mau tak seorang ’kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Hukum
Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu­abu

Seorang jerih memukul. Banyak menangkis pukul

Bungkuk jalannya – lesu
Pucat mukanya – lesu

Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti – dimengerti!

Maret 1943

Taman
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ’nusia

Maret 1943

Lagu Biasa
Di teras rumah makan kami kini berhadapan 
Baru berkenalan. Cuma berpandangan 
Sungguhpun samudera jiwa sudah selam berselam 

Masih saja berpandangan 
Dalam lakon pertama 
Orkes meningkah dengan ”Carmen” pula. 

Ia mengerling. Ia ketawa 
Dan rumput kering terus menyala 
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi 
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai ”Ave Maria”
Kuseret ia ke sana....

Maret 1943

Kupu Malam dan Biniku
Sambil berselisih lalu 
mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang 
Ngeri ini luka­terbuka sekali lagi terpandang 

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku 
Lautan yang belum terduga 
Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahuku 
Ia menipuku.

Maret 1943

Penerimaan
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku kasih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Maret 1943

Kesabaran
Aku tak bisa tidur
Orang omong, anjing nggonggong 
Dunia jauh mengabur
Delam mendinding batu 
Dihantam suara bertalu­talu 
Di sebelahnya api dan abu 
Aku hendak berbicara 
Suaraku hilang, tenaga terbang 
Sudah! Tidak jadi apa­apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli 
Keras membeku air kali 
Dan hidup bukan hidup lagi 
Kuulangi yang dulu kembali 
Sambil bertutup telinga, berpicing mata 
Menunggu reda yang mesti tiba

Maret 1943



Perhitungan
Banyak gores belum terputus saja 
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda 
Caya 
Langit bersih­cerah dan purnama raya....
Sudah itu tempatku tak tentu dimana. 
Sekilap pandangan serupa dua kelwang bergeseran 
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran 
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke 
Sukabumi...!? 
Kini aku meringkih dalam malam sunyi

16 Maret 1943

Kenangan
Untuk Karinah Moordjono 

Kadang 
Diantara jeriji itu­itu saja 
Mereksmi memberi warna 
Benda usang dilupa 
Ah! Tercebar rasanya diri 
Membubung tinggi atas kini 
Sejenak 
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang 
Hancur hilang belum dipegang 
Terhentak 
Kembali di itu­itu saja 
Jiwa bertanya: Dari buah 
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah? 
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia­nyia 

19 April 1943

Rumahku
Rumahku dari unggun­timbun sajak 
Kaca jernih dari luar segala nampak 
Kulari dari gedong lebar halaman 
Aku tersesat tak dapat jalan 
Kemah kudirikan ketika senjakala 
Di pagi terbang entah ke mana 
Rumahku dari unggun­timbun sajak 
Dari sini aku berbini dan beranak 
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang 
Aku tidak lagi meraih petang 
Biar berleleran kata manis jambu 
Jika menagih yang satu 

27 April 1943

Hampa
Sepi di luar, sepi menekan­mendesak 
Lurus­kaku pohonan. Tak bergerak 
Sampai ke puncak 
Sepi memagut 
Tak suatu kuasa­berani melepas diri 
Segala menanti. Menanti­menanti. Sepi.
Dan ini menanti penghabisan mencekik 
Memberat­mencekung punda 
Udara bertuba 
Rontok­gugur segala. Setan bertempik 
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti

Maret 1943

Kawanku dan Aku
Kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut 
Menembus kabut. Hujan mengucur badan 
Berkakuan kapal­kapal di pelabuhan.
Darahku mengental­pekat. Aku tumpat­pedat.
Siapa berkata?
Lawanku hanya rangka saja 
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali 
Hingga hilang segala makna 
Dan gerak tak punya arti

5 Juni 1943

Bercerai
Kita musti bercerai 
Sebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah­menyerah 
Darah masih berbusah­busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti bercerai 
Biar surya ’kan menembus oleh malam di perisai 
Dua benua bakal bentur­membentur. Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana? 
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur

7 Juni 1943

Aku
Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak 
Cumbu­buatan satu biduan 
Kujauhi ahli agama serta lembing katanya. 
Aku hidup 
Dalam hidup di mata tampak bergerak 
Dengan cacar melebar, barah bernanah 
Dan kadang satu senyum kukucup­minum dalam dahaga

8 Juni 1943

Cerita
Kepada Darmawidjaja
Di Pasar Baru mereka 
Lalu mengada­menggaya.
Mengikat sudah kesal 
Tak tahu apa dibuat 
Jiwa satu teman lucu 
Dalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebal 
Sama segala berbuat­buat.
Tapi kadang pula dapat 
Ini renggang terus terapat.

9 Juni 1943

Di Mesjid
Kuseru saja Dia 
Sehingga datang juga 
Kami pun bermuka­muka.
Seterusnya ia menyala­nyala dalam dada.
Segala daya memdamkannya 
Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda 
Ini ruang 
Gelanggang kami berperang 
Binasa­membinasa 
Satu menista lain gila

29 Mei 1943

Selamat Tinggal
Aku berkaca
Bukan buat ke pesta 
Ini muka penuh luka 
Siapa punya? 
Kudengar seru­menderu 
­ dalam hatiku?­ Apa hanya angin lalu? 
Lagu lain pula 
Menggelepar tengah malam buta 
Ah...!!!
Segala menebal, segala mengental 
Segala tak kukenal...
Selamat tinggal....!!!

12 Juli1943

Mulutmu Mencubit di Mulutku
Mulutmu mencubit di Mulutku 
Menggelegak benci sejenak itu 
Mengapa merihmu tak kucekik pula 
Ketika halus­perih kau meluka?

12 Juli 1943

Dendam
Berdiam tersentak 
Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak 
Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku 
Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari 
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari 
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak tampak

13 Juli 1943

Merdeka
Aku mau bebas dari segala 
Merdeka 
Juga dari Ida

Pernah 
Aku percaya pada sumpah dan cinta 
Menjadi sumsum dan darah 
Seharian kukunyah­kumamah 

Sedang meradang 
Segala kurenggut 
Ikut bayang

Tapi kini 
hidupku terlalu tenang 
Selama tidak antara badai 
Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai­gapai 
Mengapa kalau beranjak dari sini 
Kucoba dalam mati 

14 Juli 1943

Kita guyah Lemah
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah 
Segala erang dan jeritan 
Kita pendam dalam keseharian

Mari tegak merentak 
Diri­sekeliling kita bentak 
Ini malam purnama akan menembus awan 

22 Juli 1943

Jangan Kita Di Sini Berhenti
Jangan kita di sini berhenti 
Tuaknya tua, sedikit pula 
Sedang kita mau berkendi­kendi 
Terus, terus dulu..!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis­gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama 
O, hidup, kau masih ketawa? 

24 Juli 1943 

Catatan:
Semula sajak ini tanpa judul. Judul dari penyunting

1943
Racun berada di reguk pertama 
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah 
Malam kelam­membelam 
Jalan kaku­lurus. Putus
Candu 
Tumbang 
Tanganku menadah patah 
Luluh 
Terbenam 
Hilang 
Lumpuh 
Lahir
Tegak 
Berderak 
Rubuh 
Runtuh 
Mengaum. Mengguruh 
Menentang. Menyerang 
Kuning 
Merah 
Hitam 
Kering 
Tandas
Rata 
Rata 
Rata 
Dunia 
Kau 
Aku 
Terpaku.

1943

Isa
Kepada nasrani sejati

Itu Tubuh 
mengucur darah 
mengucur darah

rubuh 
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah 
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh 
mengucur darah 
mengucur darah

12 November 1943

Doa
Kepada pemeluk teguh

Tuhanku 
Dalam termangu 
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh 
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci 
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk 
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku 
di pintuMu aku mengetuk 
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

Sajak Putih
Buat tunanganku Mirat


bersandar pada tari warna pelangi 
kau depanku bertudung sutra senja 
di hitam matamu kembang mawar dan melati 
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba 
meriak muka air kolam jiwa 
dan dalam dadaku memerdu lagu 
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka 
selama matamu bagiku menengadah 
selama kau darah mengalir dari luka 
antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di 
   alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah 
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam 
   tubuhku...

18 Januari 1944

Dalam Kereta
Dalam kereta. 
Hujan menebal jendela 

Semarang, Solo...., makin dekat saja 
Menangkup senja. 

Menguak purnama. 
Caya menyayat mulut dan mata. 
Menjengking kereta. Menjengking jiwa,

Sayatan terus ke dada

15 Maret 1944

Siap­Sedia
Kepada angkatanku

Tanganmu nanti tegang kaku, 
Jantungmu nanti berdebar berhenti,
Tubuhmu nanti mengeras batu,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus memahat ini Tugu,

Matamu nanti kaca saja, 
Mulutmu nanti habis bicara, 
Darahmu nanti mengalir berhenti,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.

Suaramu nanti diam ditekan,
Namamu nanti terbang hilang,
Langkahmu nanti enggan ke depan,
Tapi kami sederap mengganti,
Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama, 
Badan kami tertempa baja, 
Jiwa kami gagah perkasa, 
Kami akan mewarna di angkasa, 
Kami pembawa ke bahgia nyata

Kawan, kawan 
Menepis segar angin terasa 
Lalu menderu menyapu awan 
Terus menembus surya cahaya 
Memancar pencar ke penjuru segala 
Riang menggelombang sawah dan hutan 
Segala menyala­nyala!
Segala menyala­nyala!
Kawan, kawan 
Dan kita bangkit dengan kesadaran 
Mencucuk menerang hingga belulang 
Kawan, kawan 
Kita mengayun pedang ke Dunia terang!
1944

Kepada Penyair Bohang
Suaramu bertanda derita laut tenang...
Si Mati ini padaku masih bicara 
Karena dia cinta, di mulutnya membusah 
Dan rindu yang mau memerahi segala 
Si Mati ini matanya terus bertanya!

Kelana tidak bersejarah 
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak gelisah 
Begitu berlumuran darah 

Dan duka juga menengadah 
Melihat gayamu melangkah 
Mendayu suara patah: 
”Aku saksi!”

Bohang,
Jauh di dasar jiwamu 
Bertampuk suatu dunia; 
Menguyup rintik satu­satu 
Kaca dari dirimu pula....

1944

Lagu Siul
I
Laron pada mati 
Terbakar di sumbu lampu 
Aku juga menemu 
Ajal di cerlang caya matamu 
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matmu 
’Ku kayak tidak tahu saja. 

II
Aku kira 
Beginilah nanti jadinya: 
Kau kawin, beranak dan berbahagia 
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk­sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta, 
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik kita padami 
Unggunan api ini 
Karena kau tidak ’kan apa­apa
Aku terpanggang tinggal rangka 

25 Desember 1945

Malam
Mulai kelam 
belum buntu malam 
kami masih saja berjaga
­ Thermopylea? ­
­ jagan tidak dikenal? – 
tapi nanti 
sebelum siang membentang 
kami sudah tenggelam 
       hilang...

Markas API, Menteng 31, 1945

Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini 
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam 
mau lebih banyak tahu.
”Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu, 
Keramaian penajra sepi selalu,
Bapakku sendiri terbang jemu 
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan: Kamar begini,
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

1946

Kepada Pelukis Affandi
Kalau, ’ku habis­habis kata, tidak lagi 
berani memasuki rumah sendiri, terdiri 
di ambang penuh kupak, 

Adalah karena kesementaraan segala 
Yang mencap tiap benda, lagi pula terasa 
mati ’kan datang merusak. 

Dan tangan ’kan kaku, menulis berhenti,
kecemasan derita, kecemasan mimpi; 
berilah aku tempat di menara tinggi,
di mana kau sendiri meninggi 

atas keramaian dunia dan cedera,
lagak lahir dan kelancungan cipta 
kau memaling dan memuja 
dan gelap­tertutup jadi terbuka!

1946

Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan 
di malam yang hilang batas

Aku dan dia hanya menjengkau 
rakit hitam.

’Kan terdamparkah 
atau terserah 
pada putaran hitam? 

Matamu ungu membatu 

Masih berdekapnkah kami atau 
mengikut juga bayangan itu? 

8 Januari 1946

Catetan Th. 1946
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai 
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.

Kita – anjing diburu – hanya melihat debagian 
       dari sandiwara sekarang 
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur
       atau di ranjang 
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu 
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat 
tempat

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu 
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan 
       berdebu; 
Kita memburu arti atau diserapkan kepada anak 
       lahir sempat 
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu 
       asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering 
       sedikit mau basah!

1946

Buat Album D.S.
Seorang gadis lagi menyanyi 
Lagu derita di pantai yang jauh,
Kelasi bersendiri di laut biru, dari 
Mereka yang sudah lupa bersuka 

Suaranya pergi terus meninggi,
Kami yang mendengar melihat senja 
Mencium belai si gadis dari pipi 
Dan gaun putihnya sebagian dari mimpi.

Kami rasa bahgia tentu ’kan tiba, 
Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan 
Dan di negeri kelabu yang berhiba 
Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan.

Lagu merdu! Apa mengertikah adikku kecil 
Yang menangis mengiris hati

Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,
Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali? 
1946

Nocturno
(Fragment)
......................
Aku menyeru – tapi tidak satu suara 
Membalas, hanya mati di beku udara. 
Dalam diriku terbujur keinginan,
Juga tidak bernyawa. 
impi yang penghabisan minta tenaga,
Patah kapak, sia­sia berdaya,
Dalam cekikan hatiku 

Terdampar...menginyam abu dan debu 
Dari tinggalnya suatu lagu. 
Ingatan pada Ajal yang menghantu.
Dan dendam yang nanti membikin kaku....

........................
Pena dan penyair keduanya mati 
Berpalingan!

1946

Cerita buat Dien Tamela
Beta Pattiradjawane 
Yang dijaga datu­datu 
Cuma satu.

Beta Patitiradjawane 
Kikisan laut 
Berdarah laut.

Beta Pattiradjawane 
Ketika lahir dibawakan 
Datu dayung sampan.

Beta Pattiradjawane, menjaga hutan pala.

Beta api di pantai. Siapa mendekat 
Tiga kali menyebut beta punya nama. 

Dalam sunyi malam ganggang menari 
Menurut beta punya tifa, 
Pohon pala, badan perawan jadi 
Hidup sampai pagi tiba. 

Mari menari!
mari meria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah 
Beta bikin pada mati, gadis kaku 
beta kirim datu­datu!

Beta ada di dalam, ada di siang 
Irama ganggang dan api membakar pulau....

Beta Pattiradjawane 
Yang dijaga datu­datu 
Cuma satu 

1946

Kabar Dari Laut
Aku memang benar tolol ketika itu,
mau pula membikin hubungan dengan kau; 
lupa kelasi tiba­tiba bisa sendiri di laut pilu,
berujuk kembali dengan tujuan biru.

Di tubuhku ada luka sekarang,
bertambah lebar juga, mengeluarkan darah,
di bekas dulu kau cium nafsu dan garang; 
lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.
Pembatan Cuma tambah menyatukan kenang.
Dan tawa gila pada Wishky tercermin tenang

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan 
memuji, Atau dia antara mereka juga terdampar,
Burung mati pagi hari di sisi sangkar?

1946

Senja Di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ajati

Ini kali tak ada yang mencari cinta 
di antara gudang, rumah tua, pada cerita 
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut 
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut 

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak 
elang 
menyinggung muram, desir hari lari berenang 
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak 
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. 

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan 
menyisir semenanjung, masih pengap harap 
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan 
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa 
terdekap. 

1946

Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau, 
Gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole­ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa 
aku tidak ’kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju 
Ajal bertahta, sambil berkata: 
”Tujukan perahu ke pangkuanku saja”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ’kan merapuh!
Mengapa Ajal emmanggil dulu 
Sebelum sempat berpeluk dengan dintaku!? 

Manisku jauh di pulau, 
kalau memang ’ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

”Betina”nya Affandi
Betina, jika di barat nanti 
menjadi gelap 
turut tenggelam sama sekali 
juga yang mengendap,
di mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati

Matamu menentang – sebentar dulu! – 
Kau tidak gamang, hidup kau sentuh, kau cumbu,
sekarang senja gosong, tinggal abu...
Dalam tubuhmu ramping masih berkejaran 
Perempuan dan Laki

1946

Situasi
...........................
Tidak perempuan! Yang hidup dalam diri 
masih lincah mengelak dari pelukanmu gemas
gelap,
bersikeras mencari kehijauan laut lain,
dan berada lagi di kapal dulu bertemu, berlepas kemudi pada angin,
mata terpikat pada bintang yang menanti.
Sesuatu yang mengepak kembali menandungkan 
Tai Po dan rahasia laut Ambon 
Begitulah perempuan! Hanya satu garis kabur
bisa dituliskan 
dengan pelarian kebuntuan senyuman 

Cirebon, 1946

Dari Dia
Buat K.

jangan salahkan aku, kau kudekap 
bukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!
Sebab perempuan susah mengatasi 
keterharuan penghidupan yang ’kan dibawakan 
Padanya...

Sebut namaku! ’ku datang kembali ke kamar
Yang kau tandai lampu merah, kaktus di jendela. 
Tidak tahu buat berapa lama, tapi pasti di senja 
samar 
Rambutku ikal menyinar, kau senapsu dulu kuhela 

Sementara biarkan ’kuhidup yang sudah 
dijalinkan dalam rahsia....

Cirebon 1946

Kepada Kawan
Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ’tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah 
serta rasa.

Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba­tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini: 
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi 
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan 
Peuk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam 
Dan 
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat,
Tidak minta ampun atas segala dosa. 
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi 
mari kita putuskan sekali lagi: 
Ajal yang menarik kita, ’kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi: 
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu 
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

30 November 1946

Pemberian Tahu
Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing­masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi 
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring 
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak­kanak kembali,

Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku 
Aku memang tidak bisa lama bersama 
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!

1946

Dua Sajak Buat Basuki Resobowo
I
Adakah jauh perjalanan ini? 
Cuma selenggang! – coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana? 
Pada daun gugur tanya sendiri,
Dan sama lagu melembut jadi melodi!

Apa tinggal jadi tanda mata? 
Lihat pada betina tidak lagi menengadah 
Atau bayu sayu, bintang menghilang!

Lagi jalan ini berpaa lama? 
Boleh seabad...aduh sekerdip saja! 
Perjalanan karna apa? 
Tanya rumah asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di situ!

Ada yang menggamit? 
Ada yang kehilangan? 
Ah! Jawab sendiri – aku terus gelandangan....

II
Seperti ibu + nenekku juga

tambah tujuh keturunan yang lalu 
aku minta pula supaya sampai di sorga 
yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai 
susu 
dan bertabur bidari seribu 

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya 
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana? 
Lagi siapa bisa mengatakan pasti 
di situ memang ada bidari 
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya 
kerlingnya Jati? 

Malang, 28 Februari 1947

Malam di Pegunungan
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin 
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? 
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: 
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

Tuti Artic
Antara bahgia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic; 
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + Coca cola.

Istriku dalam latihan:kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa 
­ ketika kita bersepeda kuantar kau pulang ­
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar; 
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu: 
Sorga hanya permainan sebentar.

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu 
Aku dan Tuti + Greet + Amoi.... hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

1947

Persetujuan dengan Bung Karno
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji 
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu 
dipanggang atas apimu, digaram oleh lautmu
dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu 
Aku sekarang api aku sekarang laut!

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat 
Di zatmu di zatku kapal­kapal berlayar 
Di uratmu di uratku kapal­kapal kita bertolak dan berlabuh 

1948

Sudah Dulu Lagi Terjadi Begini
Sudah dulu lagi terjadi begini 
Lari tidak bakal teranjak dari petikan bedil 
Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini 
Aku tidak tahu tenggal serta alasan lagi 
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang 
penghabisan 
Yang akan terima pusaka: kedamaian antara 
reruntuhan menara 
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi 
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil 

1948

Ina Mia
Terbaring di rangkuman pagi 
­ hari baru jadi – 
Ina Mia mencari 
hati mimpi, Teraba Ina Mia 
kulit harapan belaka
Ina Mia 
menarik napas panjang 
di tepi jurang 
nafsu 
yang sudah lepas terhembus,
antara daun­daunan megelabu 
kabut cinta lama, cinta hilang 
Terasa gentar sejenak 
Ina Mia menekan tapak di hijau rumput,
Angin ikut 
­ dan yang penghabisan yang mengipas ­
Berpaling 
Kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah di tekongan.

1948

Perjurit Jaga Malam
Pro Bahar + Rivai

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu 
Pemuda­pemuda yang lincah yang tua­tua keras
bermata tajam,
Mimpinya kemerdekaan bintang­bintangnya 
kepastian 
Ada di sisiku selama kau menjaga daerah yang mati 
ini.

Aku suka pada mereka yang berani hidup 
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam 
Malam yang berwangi mimpi, berlucut debu...
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu.

1948

Puncak
Pondering, pondering on you, dear....

Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang 
terbawa 
tambah penjoal dalam diri – diputar atau 
memutar – 
terasa tertekan; kita terbaring bulat telanjang 
sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata 
sekarang.
Berada 2000 m, jauh dari muka laut, silang siur
pelabuhan,
jadi terserah pada perbandingan dengan 
cemara bersih hijau, kali yang berih hijau 

Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu 
Mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di 
balik rupa.
Kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap yang 
masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana 
bahwa antara 
Cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau 
Mengembang juga tanya dulu, tanya lama, tanya, 

1948

Buat Gadis Rasid
Antara 
daun­daun hijau 
padang lapang dan terang 
anak­anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari­larian 
burung­burung merdu 
hujan segar dan menyebar 
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang ”aku” 
Dan 
angin tajam kering, tanah semata gersang 
pasir bangkit mentaduskan, daerah dikosongi 
Kita terapit, cintaku 
­ mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak 
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati 
Terbang 
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat 
­ the only possible non­stop flight 
Tidak mendapat

1948

Selama Bulan Menyinari Dadanya
Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam 
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil­panggilan 
antara aku dan mereka yang bertolak 
Aku bukan lagi si cilik tidak tahu jalan 
di hadapan berpuluh lorong dan gang 
menimbang 
ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan “pas bebas”

selama bulan menyinari dadanya jadi pualam 
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil­panggilan 
antara aku dan mereka yang bertolak 
juga ibuku yang berjanji 
tidak meninggalkan sekoci.

Lihatlah cinta jingga luntur: 
Dan aku yang pilih 
tinjauan mengabur, daun­daun sekitar gugur
rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi 
pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang 
Gundu, gasing, kuda­kudaan, kapal­kapalan di zaman kanak, 
Lihatlah cinta jingga luntur: 
Kalau datang nanti topan ajaib 
menggulingkan gundu, memutarkan gasing 
memacu kuda­kudaan, menghembus kapal­kapal 
aku sudah lebih dulu kaku 

1948

Catatan:
Semula sajak ini tanpa judul. Judul berasal dari penyunting

Mirat Muda, Chairil Muda
Di pegunungan 1943

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya 
coba memisah matanya menantang 
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada 
mulut Chairil; dan bertanya: adakah, adakah 
kau selalu mesra dan aku bagimu indah? 
Mirat raba urut Chairil, raba dada 
Dan tahulah dia kini, bisa katakan 
dan tunjukan dengan pasti dimana 
menghidup jiwa, menghembus nyawa 
Liang jiwa­nyawa saling berganti. Dia 
rapatkan 

Dirinya pada Chairil makin sehati; 
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak 
dengan mati.

1949

Buat Nyonya N
Sudah terlampau puncak pada tahun yang lalu,
dan kini dia turun ke rendahan datar.
Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahu.
Burung­burung asing bermain keliling kepalanya 
dan buah­buah hutan ganjil mencap warna pada gaun.

Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi Satu 
Atas puncak tinggi sendiri 
berjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat kematian 
Tapi hawa tinggal hampa, tiba di puncak dia sungguh tidak tahu

Jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
Selanjutnya tidak ada burung­burung asing, buah­buah pandan ganjil

Turun terus. Sepi.
Datar­lebar­tidak bertepi

1949

Aku Berkisar Antara Mereka
Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa 
Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka
pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda: 
kenyataan­kenyataan yang didapatnya 
(bioskop Capitol putar film Amerika, 
lagu­lagu baru irama mereka berdansa) 
Kami pulang tidak kena apa­apa 
Sungguh pun Ajal macam rupa jadi tetangga 
Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota 
Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa. 
Kami timpang dan pincang, negatip dalam janji juga 
Sandarkan tulang belulang pada lampu jalan saja, 
Sedang tahun gempita terus berkata. 
Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota. 
Ah hati mati dalam malam ada doa 
Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta mereka 
Semoga segala sypilis dan segala kusta 
(Sedikit lagi bertambah derita bom atom pula) 
Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama 
Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa 
Kualami kelam malam dan mereka dalam diriku pula.

1949

Yang Terampas dan Yang Putus
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
mengigir juga di ruang di mana dia yang kuingin 
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu 

di Karet, di Karet (daerahku ya. d) sampai juga deru angin 

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang 
dan kau bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; 
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang 

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku 

1949

Derai­-derai Cemara
cemara menderai sampai jauh 
terasa hari akan jadi malam 
ada beberapa dahan di tingkap merapuh 
dipukul angin yang terpendam 

aku sekarang orangnya bisa tahan 
sudah berapa waktu bukan kanak lagi 
tapi dulu memang ada suatu bahan 
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan 
tambah terasing dari cinta sekolah rendah 
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan 
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Aku berada kembali
Aku berada kembali. Banyak yang asing: 
air mengalir tukar warna, kapal­kapal, elang­elang 
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah 
juga disinari matari 
lain 

Hanya 
kelengangan tinggal tetap saja. 
Lebih lengang aku di kelak­kelok jalan; 
lebih lengang pula ketika berada antara 
yang mengharap dan yang melepas

Telinga kiri masih terpaling 
ditarik gelisah yang sebentar­sebentar seterang guruh 

1949

Kepada Peminta­-minta
Baik, baik aku akan menghadap Dia 
Menyerahkan diri dan segala dosa 
Tapi jangan tentang lagi aku 
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita 
Sudah tercacar semua di muka 
Nanaj meleleh dari luka 
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah 
Mengerang tiap kau memandang 
Menetes dari suasana kau datang 
Semabrang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku 
Menghempas aku dibumi keras
Di bibirku terasa pedas
mengaum di telingaku.

Baik, baik aku akan menghadap Dia 
Menyerahkan diri dan segala dosa 
Tapi jangan tentang lagi aku 
Nanti darahku jadi beku.

Juni 1943

Krawang-­Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang –Bekasi 
tidak bisa teriak ”Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan 
berdegap hati? 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa 
Tapi kerja belum selesai, belum apa­apa

Kami sudah beri kami punya jiwa 
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4­5 ribu nyawa

Kami Cuma tulang­tulang berserakan 
Tapi adalah kepunyaanmu 
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang­tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan 
atau tidak untuk apa­apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata 
Kaulah sekarang yang berkata 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang 
berdetak

Kenang, kenanglah kami 
Teruskan, teruskan jiwa kamu 
Menjaga Bung Karno 
menjaga Bung Hatta 
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat 
Berilah kami arti 
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian 

Kenang, kenanglah kami 
yang tinggal tulang­tulang diliputi debu 
Beribu kami terbaring antara Krawang­Bekasi.

1948

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi Chairil Anwar: Derai-derai Cemara"

Post a Comment