Suara Sapi Melenguh Lebih Baik Dari Suara Manusia Mengeluh

Terbukti bahwa menjalani kehidupan tidak semudah kata manis nan bijak. Bagi sebagian orang justru mendekati putus asa, dan tidak sedikit yang akhirnya putus asanya. Berbagai kegagalan, kemelut, ketakutan, galau, sepi, merana, lapar, broken heart, terkhianati, terdzolimi, sakit, mules, mual, dan semua yang berkawan dekat dengan yang namanya masalah, tidak henti datang, bertubi-tubi menyerang. Sebuas itukah kita diserang?

Suara Sapi Melenguh Lebih Baik Dari Suara Manusia Mengeluh

Kita seringkali meradang tatkala kata 'kesanggupan' melemah disuarakan. Kapan saja semangat yang lantang itu bisa kehilangan volume, tak terdengar lagi. Mental menyusut, nyali menciut. Cuma satu yang tetap lantang, kentut!

Dilematis memang, karena manusia diberi kemampuan berimajinasi yang tinggi. Ekspektasi manusia bisa sangat liar melompat ke luar pagar logika dan nalar. Di lain sisi, manusia tidak akurat atau bahkan jarang mengukur diri untuk mengemban khayalan yang dibangun. Fantasy makes you fly without wings!

Pada elevasi yang tak terukur tadi, kenyataan menyadarkan dengan cara yang cukup sadis. Lalu, sejadinya kita terjatuh dan terkhianati ekspektasi sendiri.

Sulitnya menyembuhkan diri dari ketidaksadaran itulah bahaya yang siap menerkam di waktu yang presisi, tepat di saat kita dapat remuk seremuk-remuknya. Kenyataan adalah keputusan juri yang tidak bisa diganggu gugat!

Seolah ada dua ruang yang di salah satu ruangnya sering membuat kita terjebak, khayalan dan kenyataan. Khayalan menyediakan kebebasan, sedangkan kenyataan mencabut wewenang itu dan harus tunduk patuh, tanpa ada penyangkalan apapun. Apa yang terjadi merupakan hal mutlak yang tidak bisa koreksi atau edit lagi. Tentu tidak se-fleksibel kahayalan, dengan mudahnya kita mengembangkan skenario, menentukan alur dan pola terbaik, improvisasi, nge-mix, atau re-design sampai semuanya tampak ideal dan prestisius.

Hanya saja, kita bingung saat hendak menuang semua itu pada kanvas realita. Sesuatu yang dirancang sebegitu hebatnya tidak bisa di pindah ke ruang nyata. Kondisi yang membuat kita kehilangan daya hidup, karena rancangan tadi menabrak kesadaran umum. Menyedihkan!

Mau tidak mau, kita mesti menjalani vonis kenyataan tadi. Seberat apapun! Dua ruang tadi di memiliki fungsi sendiri-sendiri, memang tidak bisa ditutup salah satunya. Kita mesti cermat dalam menggunakannya, ruang design dan ruang pelaksanaan.

Sayangnya, kita terlalu cepat runtuh. Bangunan yang megah dalam khayalan itu berjatuhan mencipta gemuruh dan suara paling menjengkelkan, keluh!

Tidaklah mungkin bangunan bisa berdiri di atas awang-awang saja. Butuh pondasi kuat untuk menopang. Yaitu perjuangan dan semangat baja.

Dan tutup semua celah yang dapat menimbulkan keluarnya keluhan. Karena suara sapi yang melenguh lebih baik dari suara manusia yang mengeluh.

Kita harus pulihkan kesadaran dan jernihkan pikir. Tidaklah kegagalan dan kesakitan lainnya terkunci, Tuhan menyediakan banyak kesempatan untuk bangkit, dan mencipta manusia dengan desain terbaik, dengan algoritma nomor wahid, dan dalam kemampuan yang terukur. Sehingga tidak mungkin kesulitan yang dibebankan tidak dibarengi formula penyelesaiannya.

Tugas kita adalah mencari formula itu, terselip di manakah itu? Jelas bukan pada keluhan, tapi lewat berpikir dan usaha maksimal.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Suara Sapi Melenguh Lebih Baik Dari Suara Manusia Mengeluh"

Post a Comment