Pengalaman Mengikuti SNMPTN: Masuk Gerbang Kampus Angker

Dulu ketika kecil, saya mempunyai banyak sekali cita-cita. Sebagaimana teman-teman yang lain, memiliki cita-cita merupakan kebanggan. Dan kami saling mengunggulkan cita-cita masing-masing. Cita-citanya tidak jauh-jauh dari guru, dokter dan polisi, bahkan menjadi seorang profesor seperti BJ Habibie.

Saya lebih mengidolakan menjadi guru karena sosok yang super di kampung masa itu adalah guru. Ketika pulang sekolah, saya jadi teringat, berbaris kami di pinggir jalan sembari berjalan kami menanti para guru lewat dengan sepeda motornya masing-masing.

"Selamat siang, Pak. Selamat siang, Bu"

Sapaan berantai kami disambut dengan senyum sumringah yang makin meyakinkan saya untuk mengikuti jejak mereka.

Bahkan sampai saya duduk di bangku SMA saya masih bercita-cita menjadi guru, cita-cita lain kehilangan pamor bagiku. Entah mengapa, dalam benak menganggap profesi mulia seorang guru yang mendidik orang menjadi manusia berilmu, itu kiranya yang menggerakkan hati.

Akhirnya, setelah lulus SMA saya mendaftar di jurusan pendidikan. Sebelum SNMPTN saya juga mengikuti jalur PMKA, saya lupa kepanjangannya. Alhasil, saya gagal.

Tidak putus di situ, karena SNMPTN masih ada. Saya kembali mendaftar dan giat berlatih soal-soal SNMPTN sebelumnya. waktu itu 2009, SNMPTN bukan undangan, kalau sekarang sama dengan SBMPTN. Walhasil, saya gagal lagi.

Saya sempat berpikir, barangkali saya tidak pantas menjadi guru.

Jurusan pendidikan di FKIP, ketika itu saya daftar di UNILA, memang memiliki banyak peminat. Tapi saya tidak berkecil hati, mungkin ada rencana lain setelah ini.

Jika melihat nilai di SMA, banyak teman-teman saya yang nilainya masih di bawah saya ternyata lulus dan masuk di berbagai perguruan tinggi.

Pernah juga menduga ada yang aneh di lokasi tesnya. Saya mendapat lokasi tes di SMA Al-Kautsar Lampung, dua kali saya pernah ikut tes masuk perguruan tinggi, yang satu SNMPTN dan satu lagi masuk PTS, keduanya gagal di lokasi tes yang sama.

Saya hanya berusaha menghibur diri, barangkali SMA Al-Kautsar bukan tempat tes yang hoki buat saya, Ada yang bilang, lokasi menentukan prestasi. hehe..

Karena kondisi ekonomi, pendek kata saya tidak melanjutkan kuliah.

Menjelang SNMPTN tahun kedua, saya bangkit lagi untuk mencoba. Setelah gagal tahun pertama, saya tidak lagi membuka-buka buku sekolah. Bayangkan betapa menderitanya saya harus membuka kembali buku-buku itu untuk mengikuti tes. haha...

Pagi siang malam, saya belajar (ada jeda ISHOMA dan tidur pastinya).

Ibarat gunung yang sudah gundul dan gersang, saya harus melakukan reboisasi. Lebih tepatnya seperti habis amnesia lalu sedikit demi sedikit mencari ingatannya sendiri.

Barangkali ibu saya sudah sempat mendoa dalam hati, "semoga anak saya tidak sampai gila"

Waktunya mendaftar saya bingung karena tidak memiliki poto. Entah menggunakan HP siapa waktu itu, berhasil pula saya mengisi borang dan mendapatkan kartu peserta tes dengan poto ala kadarnya, menggunakan baju koko pula. Semoga saja tidak tes di SMA Al-Kautsar. Entah mengapa di sekolah yang terkenal dengan orang pintarnya itu saya justru kehilangan kekuatan berpikir. Haha

Alhamdulillah, saya mendapat lokasi tes di Universitas Muhammadiyah Lampung. Saya bersyukur.

Sambil menunggu jadwal tes saya makin giat belajar, pinjam buku teman, dan mendekam di rumah untuk belajar.

Saya mengambil kelompok IPC, karena salah satu jurusan terinspirasi teman, jurusan BK (masih guru) tapi di pilihan 3, untuk pilihan 1 dan 2 saya mengambil Teknik Sipil dan Teknik Elektro.

Teman saya melarang mengambil 2 jurusan teknik sekaligus karena dia anggap grade nya tinggi. Saya jawab, "Telat, sudah dapat kartu tesnya"

Dengan berbekal perlengkapan tes seadanya, saya berjuang. Sempat mendapat teguran dari pengawas karena tidak memakai sepatu. haha

Lalu tidak membawa poto kopi ijazah, untung saya ikut IPC sehingga diminta membawa esok harinya. Sampai di rumah, ternyata poto kopi ijazah saya lipat di dompet. Emang dah..

Jrengg.. jreeeeng...

Pengumuman tiba. Cemas-cemas harap...

Takdir membuktikan, saya tidak cocok menjadi guru. Tapi Alhamdulillah saya masuk ke kampus angker, Teknik Sipil.

Pengalaman Mengikuti SNMPTN: Masuk Gerbang Kampus Angker

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengalaman Mengikuti SNMPTN: Masuk Gerbang Kampus Angker"

Post a Comment