Episentrum: Di Atas Gelombang Cinta

Aku masih bertanya-tanya, benarkah perempuan itu telah jatuh hati padaku? Mengapa rasanya aku melambung dan mengambang di angkasa bahagiaku sendiri. Bisakah aku membedakan antara kesadaran dan khayalan yang tak kuketahui batasnya. Jika ini kenyataan, pasti dia telah berusaha keras untuk menerimanya. Jika benar ini sebuah kenyataan, mengapa aku masih bertanya-tanya? Love isn’t love i was difined before. Its so different, such a magic.

Episentrum: Di Atas Gelombang Cinta

Beberapa kali kulihat wajahnya yang lelah, aku yakin dia pun memiliki pertanyaan yang sama. Ada kecewa dan kecemasan yang melekat dan mengancam ketenangan batin. Sebegitunyakah jatuh cinta, tak hanya bahagia namun menjatuhkan banyak pertanyaan yang asing. Atau pikiran kami telah meluncur jauh ke inti yang tidak bisa lagi diisi dengan senda gurau. Lalu ketakutan dengan sendirinya mewabah. Kemana cinta akan bermuara setelah jatuh?

Fantastic! Belum pernah kudapati perasaan semacam ini. Aku dan dia serupa bumi dan matahari, sesaat kami berada pada titik Perihelium dan pada saat yang lain jarak kami bisa mengembang sejauh-jauhnya mencapai Aphelium. Dan cinta menjadi orbit yang mengagumkan. Aku percaya permasalahan jarak hanyalah persepsi. Orbit yang konstan merupakan keindahan yang unik, terlepas siapa di antara kami yang menjadi matahari atau bumi, itu tidak terlalu penting bagiku. Ah, rasanya perumpamaan tadi tidak tepat, aku masih tetap bertanya-tanya.

Lalu mengapa kami terkadang merasa jenuh? Akankah aku bisa cukup mengerti bahwa seseorang bisa jenuh bahkan terhadap hal-hal yang sangat disukai. Ya, aku bisa maklum dengan kenyataan semacam itu, meski dengan sedikit rasa ngilu. Belakangan ini kuhadapi fase baru dari kejenuhan. Fase di mana semua pertanyaan yang pernah muncul perlahan tenggelam dan mengendap. Ada jawaban-jawaban yang tak ingin kudapatkan, ada kehausan yang enggan dilegakan, dan pencarian yang tak diminati. Namun, apakah aku harus berhenti?

Ada keraguan yang menggumpal dan menyesakkan. Ada emosi yang mendidih, dan kalimat yang kehilangan suhu, beku. Apa ini salah satu mekanisme dari sebuah proses pendewasaan? Dan aku belum dewasa? Setua ini?!

Terdengar sangat menyedihkan! Tapi mau bagaimana lagi, aku pun harus jujur dengan keadaan seperti ini. Tidakkah jujur bisa membuka jendela dari keterkungkungan batin, dari kesemuan, dan dari perlakuan buruk akibat ketidakmengertian? Setidaknya aku tahu keadaanku, dan sesegera mungkin berkemas pergi meninggalkan kebodohan.

Belakangan ini aku mulai berpikir tentang banyak hal. Bagaimana menjadi seorang engineer yang berhasil, menjadi lelaki yang baik, menjadi suami (nanti) yang hebat, atau paling tidak menjadi diriku yang rapi dan terkendali. Pikiran-pikiran itu membuat jiwaku berderak-derak.

Aku terus mengumpulkan keyakinan, ‘sense of belonging is never enough to make her happy, need something special and real’. Kalimat itu sedikit melukiskan perasaanku. Sialnya, mengapa aku baru mulai belajar saat ini, mengapa tidak dari dulu? Bodoh!
***
Ini aku yang bebas dan tak akan menyandera kebebasannya! Orang bilang, sebuah hubungan dibangun dari rasa saling percaya. Ego yang buas dan keinginan yang liar mesti dijinakkan atau akan menerkam. Lalu kebebasan yang ada mesti pula dibatasi karena manusia seringkali melampauinya. Tak lain dengan kedewasaan yang matang. Dengan itu terciptalah ketenangan hidup, kejernihan pandangan, dan hati yang lapang. Tempat yang baik dan subur untuk mencintai.

Cinta rasanya sudah mengubah sesuatu dari hidupku. Paling tidak untuk mengartikan sepi sebagai penantian yang tulus. Di mana kesabaran meluas untuk menampung rindu dan menjaga rasa dari korosi. Sebisa mungkin aku menjawab pertanyaanku sendiri.

“Kau masih terasa asing bagiku” katanya.

Aku gugup untuk menjawabnya. Namun batinku menjawab, ‘Kau sudah begitu dekatnya, hanya saja aku ingin menjagamu tetap murni’.

“Aku takut kalau kau akan meninggalkanku kapan saja kau mau” keluhnya.

Aku bingung untuk membalasnya. Namun pikiranku memberontak, ‘Aku takut Tuhan merencanakan itu, padahal aku tak sekalipun berdoa agar jauh darimu. Aku ingin Kaulah yang melengkapi ketidaklengkapanku. Aku ingin menatapmu sampai mataku dan matamu menyatu. Lalu merangkai setiap senyummu menjadi doa-doa yang baik.’

Aku selalu lemah dalam meredam keresahannya. Sedang keresahanku sendiri masih menguasaiku. Aku masih bodoh dalam menjawab pertanyaannya, sedang aku sendiri masih bertanya-tanya. Bisakah jodoh itu ditawar-tawar, agar aku bisa memilih namanya sebagai jodohku. Helvina Rahmayani.

Lelaki semacam aku kesulitan dalam menemukan jawaban. Laksana berdiri di atas episentrum, terguncang hebat. Setua ini masih amatir memperlakukan perempuan dengan baik.

Bagaimanapun cinta berhasil menguatkanku. Membangun sebuah kepercayaan diri yang kokoh. Pertanyaan dalam hidup tak akan pernah berhenti menagih jawaban. Jika itu menjadi sebuah masalah, aku yakin dari rahim masalahlah kedewasaan akan terlahir.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Episentrum: Di Atas Gelombang Cinta"

Post a Comment