Tafsir Mimpi

Kali ini, mimpi bukan sekadar bunga tidur. Istriku telah bermimpi aneh. Di tengah malam ia membangunkanku, “Aku kok mimpi, beras yang aku masak bukan jadi nasi malah jadi bubur”. “Bubur?” tanyaku, “Mungkin kamu lupa, kamu sedang masak bubur, bukan masak nasi”.

Aku berusaha menenangkan sambil menahan kantuk.

“Tapi buburnya nggak biasa Mas, mirip lumpur.”
“Sudahlah, itu cuma mimpi, mimpi itu bunganya tidur.”

Awalnya aku tidak begitu peduli. Tapi siang tadi, mimpi itu menghantuiku.

Hujan dari subuh tak juga berhenti hingga waktu ashar hampir habis. Entah kenapa, mimpi itu membuatku cemas. Dan kedatangan Mas Urip, seperti membenarkan mimpi istriku bukan sekadar bunga tidur. Kulihat sekujur tubuh dan berita yang ia bawa basah oleh hujan.

“Kok masih di rumah Mas, udah lihat sawah belum? Banjir Mas, banjir”

Singkat dan dia pulang sambil menahan dingin dan pilu. Aku tak ingin mengartikan mimpi itu. Kubawa tubuhku yang penuh cemas menuju sawah. Berharap air hujan dapat melunturkan mimpi dan kecemasan itu dari diriku.

Tiba di sawah, yang terlihat olehku justru jabang bayi yang akan lahir beberapa hari lagi, anak pertamaku. Tangisannya sudah kudengar di tengah petak sawah warisan yang makin menciut. Tangisannya membuat kakiku lemas. Padi yang telah kuning, dua atau tiga hari lagi sudah kurencanakan untuk dipanen, akhirnya telah lebih dulu menjadi bubur, ya, bubur seperti dalam mimpi istriku.

Aku jadi ingat cerita seorang anak lelaki di kampungku. Katanya, ibu dari anak itu juga bermimpi. Dua hari sebelum anaknya lahir, dalam mimpi itu dia mendapati seluruh hartanya telah dicuri habis oleh seseorang yang tidak dia ketahui. Lalu ibu itu bangun dan menceritakan mimpi tersebut pada suaminya. Dan suaminya bersikap sama sepertiku, tak peduli dan menganggap mimpi cuma bunga tidur.

Sampai akhirnya mimpi itu nyata. Dan ibu itu tahu, pencuri dalam mimpi itu lahir dari rahimnya sendiri, lelaki nakal yang selalu bikin ulah.

Timbullah pertanyaanku, apakah mimpi perempuan yang hamil adalah sebuah pertanda? Tapi aku belum pernah mendengar mitos seperti itu. Barangkali cuma kebetulan saja. Kebetulan ibu itu dan istriku bermimpi sebelum hal yang tak diharapkan terjadi.

Kalaupun benar mimpi istriku adalah pertanda, setidaknya aku merasa lebih beruntung, karena mimpinya tidak seburuk mimpi ibu itu. Bayangkan saja, orang paling kaya di kampungku itu, sampai gulung tikar semua usaha yang digeluti. Mulai dari industri kerupuk, peternakan ayam petelur, jual beli beras,  perkebunan kopi, sampai rumah makan di dekat pasar, semua lumpuh. Dan orang terkaya itu kembali lagi sebagai petani, seperti awal mereka memulai semuanya.

Aku tak tahu apa yang harus aku pikirkan. Cerita itu sedikit membuatku tenang.

Padiku yang telah jadi lumpur dan anak nakal itu benar-benar lahir dari rahim mimpi perempuan hamil. Ah, aku juga tak tahu kenapa tiba-tiba cerita anak lelaki nakal itu muncul. Padiku dan anak lelaki yang kubenci itu, sama-sama menyedihkan.

Cerita anak lelaki itu, sejelas kenyataan di hadapanku. Ketika itu, masih kuingat. Ulah yang bikin orang tuanya malu, bayangkan, kedua orang tuanya sudah haji, tapi si Brandal--julukan anak itu--, malah mabuk-mabukan di ujung desa. Hampir tiap ada judi koprok, dia duduk di depan bandar, mengadu nasib, menjual harga diri orang tua. Belum lagi togel, ah, entah dari mana dia temukan angka-angka, dan di mana letak kepuasannya, padahal belum sekalipun angka-angka itu keluar, tak pernah ada bosannya. Kata orang-orang di sana, Haji Karman mendapat kiriman goib, tapi sulit dipercaya, Haji Karman orang yang baik, mana ada orang yang tega berbuat sekeji itu. Ada juga yang otaknya tidak beres, menuduh bahwa Si Brandal adalah tumbal dari pesugihan yang dijalani Haji Karman. Beliau kan haji? Katanya, itu cuma kedok. Betapa sedih orang terkaya itu, karena anaknya yang nakal itu, harga dirinya lenyap.

Aku berusaha menyingkirkan masalahku. Haji Karman jauh lebih malang. Gara-gara kenakalan anaknya yang entah diwariskan dari siapa, beberapa kali Haji Karman harus bertanggung jawab melunasi administrasi teman-teman si brandal di sumah sakit, tak lain karena ulah anaknya. Ada yang cuma babak belur, ada juga yang sampai opname. Tapi masih untung tidak ada yang melaporkan ke polisi. Mereka, orang tua teman-teman si Brandal masih sangat menghargai Haji Karman.

Tentu tidak satu orang tua pun yang menginginkan anaknya lahir seperti berandal. Sungguh buah yang jatuh amat jauh dari pohonnya. Aku pernah menceritakan kisah ini pada istriku jauh sebelum dia hamil,  bahkan sebelum kami menikah. Kami ingin memiliki anak yang membanggakan, tidak seperti si Berandal itu. Istriku menangis, ketika kuceritakan si Berandal itu pernah membuat guru ngajinya marah besar karena mengganggu teman-temannya yang sedang ngaji, lebih dari itu, ketika teman-temannya solat pun, selalu saja di ganggu. Keterlaluan, sejak saat itu dia tidak ngaji lagi di mushola. Lagi, mana ada orang tua yang mau anaknya tidak sekolah.

Si Berandal, yang sangat didukung orang tuanya untuk sekolah sampai perguruan tinggi, malah menolak habis-habisan. Buat apa sekolah, katanya. Sampai di situ, aku tidak melanjutkan lagi kisahnya, aku tidak kuat melihat istriku menangis. Perempuan memang memiliki perasaan yang lembut. Mungkin dia merasakan betapa sedihnya Haji Karman dan istrinya. Padahal, masih ada yang lebih menyedihkan lagi. Selain nakal, tidak ngaji, tidak sekolah, satu ini yang bikin orang tuanya bangkrut: ngobat alias pengguna narkoba.

Haji Karman tidak bisa berbuat apa-apa. Setua itu harusnya tinggal menikmati hari tua yang menyenangkan. Sudah lama Haji Karman menginginkan memiliki anak, sekali punya anak malah berandal. Semua itu di luar kuasanya, bahkan seorang nabi pun tidak bisa memastikan anaknya menjadi nabi. Satu yang selalu menjadi keberuntungan orang yang dulu pernah jadi juragan paling kaya itu, ulah anaknya tak pernah berhubungan dengan posisi, itu saja.

Kataku pada istriku, aku akan sekuat tenaga mendidik anak agar tak seperti si Berandal. Pecandu narkoba yang tega menjual tanah perkebunan dan sebagian sawah, serta menggunakan semua hasil usaha orang tuanya demi kepuasan diri. Susah payah Haji Karman dan istrinya bekerja, dari nol. Dan istriku pun tersenyum mendengar niatku. Segala doa terucap, semua yang tidak baik kami hindari. Kata ustadz, apa yang dilakukan orang tua berdampak pada anaknya. Mungkin saja Haji Karman pernah khilaf. Kami benar-benar menghindari yang buruk, meski tak bisa menghindari mimpi itu.

Di tengah hujan, aku bingung harus menceritakan apa pada istriku yang sebentar lagi melahirkan. Apa aku harus menceritakan nasib Haji Karman sampai selesai biar istriku masih merasa lebih beruntung? Si Berandal yang sangat menyusahkan orang tua. Semua kekayaan Haji Karman ludes, tinggal petak sawah sama seperti saat dia mulai semuanya dari nol. Apalah yang bisa dilakukan oleh orang amoral dan tak berpendidikan sepertinya?

Aku tidak yakin istriku dengan mudah menerima ini. Aku yakin dia akan jauh lebih sedih ketimbang mendengar cerita si Berandal itu.

Aku benci mimpi buruk itu, seperti aku benci dengan si Berandal yang baru tobat setelah kedua orang tuanya wafat tanpa meninggalkan wasiat. Apakah ini salah mimpi buruk itu? Atau salah istriku yang bermimpi? Tentu tidak begitu.

Langit mulai gelap. Ingatanku tentang si Berandal tak juga mengurangi kesedihanku. Sungguh kasihan anakku yang akan lahir beberapa hari lagi. Ia akan tetap tergadai sebelum aku bisa membelikan kambing aqikah. Biaya persalinan, perlengkapan bayi, dan lain-lain, telah jadi lumpur. Ini jelas bukan karena mimpi buruk itu.

Si Berandal, anak nakal yang dulu selalu bikin ulah di kampungku itu, kini hanya bisa tertegun, kakinya yang lemas masih berusaha menopang tubuh dan kesedihan. Kini dia berdiri di tengah petak sawah, memandang padinya yang jadi lumpur. Air matanya di samarkan air hujan. Dia masih berusaha mengenang masa lalu dan membayangkan nasib anaknya yang beberapa hari lagi akan lahir.
Tafsir Mimpi
Cerpen Tafsir Mimpi Terbit di Majalah Annida

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tafsir Mimpi"

Post a Comment