Metamorfosis yang Gagal

Ketika asmara meletus, lahar panas membanjiri lereng-lereng hijau. Pepohonan dan kejernihan pikir di renggut semena-mena. Apa yang dulu tumbuh dan lestari, lenyap. Inilah suksesi primer. Dimana kehidupan baru bisa jadi kembali subur, atau akan terlalu lama untuk menungunya pulih. Seperti itu bagiku di landa asmara.

Metamorfosis yang Gagal

Seribu tanya membanjiri benak yang kering. Aduhai, apakah ini?

Harapan yang besar dikandung pikiran, semoga saja lahir kebahagiaan yang memberikan pengertian lain tentang asmara.

Asmara memang bukan kata asing yang baru kukenal, tapi pertama kali menimpaku. Ini musibah bagiku. Karena semenjak itu terjadi, semua yang tiba-tiba tandus tak kunjung membaik.

Rasa menjadi berubah, seakan semua hendak diganti dalam standard yang beda. Aku dipaksa mengikuti ritme asing yang sulit diikuti. Aku harus mendengarkan nada aneh yang kelamaan kuhapal dan kurindukan.

Aku tak tahu apa perasaan yang sama menimpa orang lain juga. Semoga hanya aku yang merasakan nasib ini, nasib pendatang baru yang tak dibekali apa-apa, kecuali anugerah cinta yang jernih. Semoga cinta itu sendiri yang kemudian memulihkan keadaan. Aku cuma bisa berharap, sementara usahaku terhadang oleh dinding tebal yang tak mudah diruntuhkan.

Hanya saja aku tak bisa mengelak. Inilah kodrat, cinta terlalu seenaknya, tak pernah memberi tahuku kapan terjadi. Tiba-tiba saja terjadi, begitulah. Tiba-tiba saja semua jadi tandus.

Tragis sekali. Metamorphosis yang gagal.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Metamorfosis yang Gagal"

Post a Comment