Matahari Pagi

Matahari yang masih lugu, memberi senyum pada bumi dan masuk lewat jendela kaca. Menembus sepiku yang kudiamkan di kamar. Serasa asing meski lama kukenali, bahkan sering kukecupi bayangnya. Menjadi asing dan aku ingin tak mengenalinya lagi. Hari-hari berlalu membawa robekan-robekan kertas dilema, dan kini menyuguhiku rasa sepi yang diam dan mendiami kalbu.

Matahari Pagi

Diriku mengidap kesepian, setelah rindu itu terkoyak kenyataan. Rindu yang sejatinya lahir dan tumbuh rimbun kini tandus. Matahari tiba-tiba terasa garang, entah hendak mengusir sepiku atau hendak menyerang. Aku makin tersudut di ketidakmampuanku. Terpenjara oleh angan-angan yang berdinding tebal.

Sebenarnya aku ingin keluar dari rasa kangen dan mencintai. Karena rasa itu akhirnya menjauhkanku dari kesadaran. Kesadaran yang kerap mengenalkan diriku lebih dalam, namun itu kini terbungkus koyakan kertas yang terbuang.

Lelaki seperti aku memang terlalu bodoh. Terlalu peka menerima rangsang, terlalu peka menerima sinyal, padahal itu serupa sinyal yang nyasar dan tak dikehendaki. Tapi wanitalah yang egois, semena-mena kepadaku, mengira cinta ini lelucon dan menganggap aku masih terperangkap dalam kekanak-kanakan yang polos juga tak mengerti apa-apa. Padahal aku ingin mendekap erat kenyataan, sampai tak lepas lagi. Dan kini kenyataan itu benar-benar mendekapku, aku tak bisa pergi. Kenyataan itu adalah sepi.

Akupun tak bisa menyalahkan. Karena aku tak punya wewenang untuk mengatur jalan pikiran dan arah cinta meluncur. Barangkali memang benar, aku belum bisa disinggahi, belum ada yang betah. Mungkin butuh kubangun istana megah yang membuat wanita betah tinggal dikalbuku.

Dia pergi bersama angin yang berhembus. Entah akan kemana. Meninggalkanku barangkali dapat kutafsirkan sebagai sebuah kebebasan. Sah, dan bukan illegal.

Sisa-sisa rasa yang menumpuk, sama sekali belum berkurang. Itulah yang sekarang menjadi gumpalan lara yang singgah di inti sepi. Sebuah ruang yang kedap udara, hampa.

Baiknya aku simpan cintaku sampai saatnya tiba, dimana pintu dengan sendirinya terbuka tanpa kumengetuk. Karena dipunggungi perasaan, akan bikin seseorang tak dipedulikan, sebesar apapun itu upaya telah dilakukan. Namun sikap telah menunjukkan makna bahwa aku harus memutar layar.

Cinta, jika bagi kebanyakan orang mampu menumbuhkan bunga di taman, bagiku cinta belum dapat seperti itu. Cinta tak mau menumbuhkan bunga di tanah yang tandus milikku. Apakah seperti itu? Mengapa terjadi padaku?

Beberapa hari yang lalu, ketika harapan masih seperkasa prajutit perang, sikapnya memukul mundur semua upayaku. Aku harus mengaku kalah tanpa hasil. Sementara cinta ini tak bisa semudah membuang kisah ke masa lalu. Akan tetap melekat, dan kemelekatan inilah yang bikin perih sepiku. Sepi bagi lelaki yang pendek pengalaman tentu terasa menyakitkan.

Apa aku harus mencurigai kenyataan ini sebagai ilusi yang tak nyata? Padahal rasa sakitnya benar nyata?

Selama ini aku ditipu fatamorgana, anganku mengembang seluas langit. Lalu pecah seperti supernova. Bikin hidup ini berkeping-keping tanpa makna. Kini kukumpukan di dalam sepi yang sempit dan pengap. Kulapisi saja dengan dinding ketidakmungkinan yang menghalangi anganku bertebaran tak tentu.

Merasakan cinta membutakan kejernihan pikir. Beberapa waktu ini aku justru curiga, apakah yang kurasa ini bukan cinta, justru ini menunjukkan bahwa aku tak seberuntung pangeran cinta yang dapat dengan mudah memboyong permaisurinya.

Maka aku harus mengenali keluguanku. Cinta tak bisa ditembus oleh kekecewaan dan keputusasaan. Cinta itu tak perlu ditanam, akan tumbuh sendiri di tanah setandus apapun. Dan kali ini aku belajar mengenali diriku sendiri sebelum menceburkan diri ke samudra asmara yang dalam. Samudra yang eksotis penuh rahasia, penuh teka-teki.

Maka sedihku dan sepiku, serupa kepompong yang membalut jiwaku. Aku akan melewatinya biar kemudian mengalami metamorphosis kebijaksanaan hidup. Sebelum pada akhirnya berkelana lagi. Tidaklah ada cinta yang melukai perasaan, yang melukai bukanlah cinta, melainkan perasaan yang tak pantas melekat dalam diri namun menjangkit tak terusir.

Perasaan itu adalah perasaan yang terlalu besar untuk memiliki dan menampung cinta, sementara wadah yang layak belum tersedia. Rasa sakit dan kecewa itu kemudian kuarahkan sebagai petunjuk bahwa masih banyak yang harus kupelajari untuk dimengerti.

Kehendak bukanlah Tuhan yang mengharuskan wanita mengiyakan apapun ambisi. Menerima kenyataanlah sikap yang harusnya ada padaku. Lantaran semua yang kuingini di batasi tembok keinginannya.

Wanita begitu indah. Alam terkalahkan dari segala yang ditawarkannya. Wanita perhiasan di etalase dunia. Perhiasan yang tak sembarang orang bisa menyentuh dan memilikinya. Dan wanita yang seperti itulah wanita yang pantas untuk diperjuangkan.

Perjalanan masih panjang. Jika aku mendekam dalam sepi ini bukan berarti aku akan mendekam selamanya. Ini adalah waktu yang kupunya menyelami dasar jiwa. Karena cinta bukan sembarang perihal yang bisa seenaknya dimainkan. Cinta bukanlah permainan. Cinta itu anugerah! Aku ingin mendapatkan anugerah itu dengan cara yang layak.

Suatu saat nanti, semua akan terbuka dengan lebar. Selama ini sebenarnya aku menutup diri, hanya saja aku masih terlalu cepat membuka hati sebelum tiba saatnya.

Matahari telah mendarat di ubun-ubun bumi. Debu menguasai jalanan, sementara dedaunan tetap bertengadah berharap diguyur hujan. Namun begitu, kulihat rasa syukur dengan tetap meneduhi diriku yang berlindung di bawahnya.

Aku kembali lagi ke sarang, ke dalam sepiku!

Mencari-cari apa yang tersembunyi di baliknya, mengapa aku ada di dalamnya. Mungkin ini bagian hidup yang tiap orang mengalami, tapi aku tidak yakin hal itu.

Aku bertarung dengan waktu, sejauh apa loncatanku sampai di saat yang tepat. Jika ternyata aku mendarat di tempat yang sama, berarti aku memang tidak layak meraih keberuntungan. Ah, itu tidak mungkin!

Fatamorgana! Aku tidak boleh benci padanya. Karena kondisi itu merupakan kenikmatan di saat lelah. Ya, di saat yang selelah itu, fatamorgana masih menghibur. Bagaimana aku harus benci?

Untuk saat ini, kusebut dia fatamorgana. Bayangan yang hadir di depanku, namun kosong. Itu akibat besarnya pengharapanku, sementara kenyataan tak menampungnya.

Dalam sekaratku, cintaku tak akan berkarat. Semoga bukan isapan jempol saja. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Matahari Pagi"

Post a Comment