Kantuk

Kantuk bergelantungan di kelopak mataku, makin berat di malamku yang larut. Seperti masa kanak-kanak yang larut di masa lalu, masa subur kenakalanku. Masa yang sepolos pagi dengan embun dan udara segar tanpa polusi di kampung. Permainan sederhana dan rupa angan berkembang biak. Seberat kantuk ini, pikiranku terlempar ke masa itu. Menyambut matahari dengan dahaga canda ria, dan menutupnya dengan seruput kehangatan di tengah teman-teman dan keluarga. Masa yang larut dalam sejarah hidup, telah menggores kertas-kertas kisah perjalananku. Apapun itu alurnya, bagaimanapun scenario yang telah kulewati, tak akan kukoyak atau kubuang. Semua masih nyata dan terbaca, meski ada bagian-bagian yang menguap dari ingatan. Tapi masa lalu, bagaimanapun juga adalah anak tangga kehidupan sebelum mencapai elevasi yang lebih tinggi dari kenyataan yang kupijak.

Masa lalu mirip santapan yang lama tak ditemui, kemudian ada kerinduan yang berontak untuk mengulangi kisahnya, meski lewat penjelajahan maya. Namun kisah itu seperti mengembalikan keluguan yang hilang, mengembalikan nyala api yang berkobar tentang warna-warni ci ta-cita yang menghiasinya. Rasanya nikmat untuk kusantap di malam yang selarut ini. Rasa kantuk dan lelah yang bergelantungan di kelopak kutahan sekuat pikiranku mengingat masa lalu itu, dan sekuat usahaku menjumpai masa depan.

Pengalaman, seperti apapun kisahnya, tetap saja berbuah. Buah-buah itu ada yang manis, ada pula yang pahit. Lalu yang pahit kebanyakan menjadi obat atau serupa vaksin yang mengebalkan tubuh. Sedang yang manis, menjadi pemanis hidup. Pengalaman itu ruang yang gelap, ruang yang telah di penuhi sarang laba-laba yang using. Namun ada kebijaksanaan yang dapat diambil di dalamnya. Memasukinya tidaklah salah, karena itulah buku dari kumpulan kisah yang bagiku perlu untuk kembali dibuka dan dimasuki, namun bukan untuk disinggahi.

Lembaran hidupku yang polos, sebagian telah terisi coretan, baik dari pena hidupku maupun dari kisah perjalanan orang lain yang dekat denganku. Semua itu tak layak untuk kukoyak. Karena kadang bisa terbaca dengan makna yang berbeda dalam kondisi tertentu. Saat masa depan belum membuka pintunya dan aku berusaha mengetuknya, rasa lelahku karenanya membuatku ingin berekreasi mengunjungi kenangan.

Sedewasa apapun seseorang, masih hinggap pada dirinya sifat kekanak-kanakan yang tersimpan tempat paling dalam, kadang ada pula yang mudah di lihat dari sikapnya. Kadang hal itu bisa menghibur, sebab kekanak-kanakan merupakan taman bermain, tempat menghilangkan penat kala perjalanan panjang tak kunjung menemui ujung. Tak apa bagiku jika sifat itu masih melekat, tapi bagiku itu kusembunyikan, kadang-kadang saja ingin kubuka, seperti membuka taman yang  penuh keceriaan. Biarpun begitu, aku bukan kanak-kanak lagi. Masa lalu telah berlalu dan menempati masanya, bagai air yang mengalir sampai muaranya. Aku tak mau hanyut.

Masih banyak lembaran kosong. Ingin kuisi dengan kisah yang nanti dapat kubuka ketika aku melalui kisah itu, jika aku sampai di masa yang terpeta dalam rencana dan angan-angan.

Selalu ada pertanyaan yang kelaparan. Selalu ada keinginan yang dahaga. Selalu ada perjuangkan untuk memenuhi rengekan yang seringkali berontak dalam lelahku. Aku tak perlu mengeluh karena mengeluh melemahkan langkahku, karena mengeluh membuntukan jalan pikiran. Hidup berlalu melebihi lepasnya peluru. Jarum jam berlari mengalahkan larinya kuda pemenang lomba. Cuma aku yang tertatih, kadang berhenti menyeka keringat, melihat arah di kompas keyakinan. Bahwa apa yang akan kulalui bukan liku labirin yang berakhir buntu.

Etalase dunia tak henti mengiming-imingi. Pondok-pondok peristirahatan menawari berupa-rupa suguhan. Sesering apa aku berhenti, akan semakin banyak kesempatan terlewatkan.

Ada di medan kenyataan, membuka pikiranku bekerja. Banyak hal yang harus kuperbuat!

Kantuk adalah alarm. Aku harus membaringkan tubuhku di dekapan malam. Aku tak bisa menahan terlalu lama. Cukup sebentar menjelajahi kenangan, sebentar membentangkan angan, dan esok kakiku melangkah tanpa keraguan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kantuk"

Post a Comment