Ibu dan Bapakku: Reaksi Fusi Bagi Hidupku

Jum’at malam aku pulang ke rumah. Sudah tiga minggu berkeliaran di kampus dan mendekam di kontrakan. Kuliah beserta tugas-tugasnya tak habis kulahap, sebagian masih tersisa, aku tak mampu menghabiskannya. Untuk beberapa waktu manusia memang perlu mangalihkan perhatian ke hal-hal yang menyenangkan. Teori sederhana untuk mencegah stress. Dan hal menyenangkan bagiku adalah pulang ke rumah. Tapi kali ini oleh-olehku adalah tugas-tugas itu. Di hari yang istimewa, aku tak membawa hal yang istimewa.

Pukul delapan malam lewat, rinduku mendarat tepat di depan pintu. Seperti hendak memasuki rahim yang nyaman, namun aku telah terlahir di dunia yang sudah mulai pikun. Tas ranselku berisi tugas-tugas, buku-buku, alat tulis, tak lupa kalkulator, dan semua alat yang merampas—untuk saat ini—kebebasanku, kebebasan untuk selalu berada di rumah, menyantap kebersamaan yang lezat. Rumah menjadi tempat yang paling nyaman bagiku, dan bagi semua orang yang mencintai ibunya.

Harmonika, tak lupa pula kubawa. Dua minggu yang lalu kubeli di Tanjung Karang. Alat musik tiup-hisap yang memanjakanku dengan nada yang indah, alat musik yang menurutku paling baik dalam menjaga privasi pemainnya. Dengan ‘asal tiup’, seorang pemula dapat terlihat seperti maestro, dan perasaan semacam itu menimpaku. Seringkali percumbuan yang mesra membuat tugas-tugas cemburu pada harmonikaku. Alhasil, aku mesti membawa pulang kedua-duanya, tentu untuk menghindari kecemburuan sosial antara mereka berdua dan untuk menyelamatkanku dari asisten dosen yang tak bosan-bosang mengucap: deadline!

Sekitar pukul sembilan, dari balik pintu terdengar salam yang tak asing bagiku, ibu.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”

Kerudung putih dan senyumnya tak pudar, ibu mendekatiku. Tangan kanannya mengoper Al Quran ke dekapan dangan kirinya, kuraih tangannya, kucium. Tangannya tak selembut tanganku, seperti ada ratusan asa yang selalu dia genggam tak sedikitpun ingin dilepas, sekuat apapun ronta itu. Tangannya keras membatu, ngilu!

Pantas saja Tuhan meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu, tentu hal itu tidak berlebihan. Ketulusannya barangkali sejernih air yang mengalir di surga, dari yang dia beri tak pernah ditanyakan yang mesti dikembalikan, meski yang diberi itu adalah pertaruhan harga diri, pertaruhan hidup.

Seperti ibu bagi kebanyakan orang, bagiku, ibuku adalah pahlawan yang jauh lebih hebat R.A. Kartini. Dari tangannya yang keras, dia masih menyembunyikan pengorbanannya di balik senyum yang anggun, senyum yang penuh bunga-bunga, pengorbanan untukku dan adik-adikku. Ibu yang bersikeras menjadikanku mahasiswa. Aku masih ingat pertarungan sengit kala melumpuhkan kekhawatiran ayahku perihal keuangan. Di akhir perang argumen itu, kata ibu: ‘setiap anak memiliki rejeki masing-masing, kita baru boleh takut atau khawatir tak mampu membiayainya kalau Allah bakal jatuh miskin’. Daya tarik Blackhole menyita seluruh kosa kata ayahku, dia diam kehilangan bahasa. Dalam hal pendidikan, ibuku memang selalu memperjuangkannya. Maka tak heran jika ibuku berbeda dengan orang-orang di kampungku yang pikirannya dibalut rasa takut lalu melempar pendidikan keurutan belakang. Ayah dan ibuku tak menikmati pendidikan setinggi yang aku rasakan. Ayahku tidak tamat SD, sedang ibuku menikah ketika masih SMP dan belum sempat menamatkannya. Ibuku tak mau mewariskan nasib itu pada anak-anaknya.

Ayahku adalah orang yang keras, dia pula yang sering menguras air mataku untuk melunturkan kebodohan. Kerapkali aku diajarkan rumus matematika yang waktu itu belum diajarkan oleh guruku, dan dia berhasil membuatku menemukan kunci, untuk kemudian masuk ke ruang yang penuh analisis dan perhitungan. Kekhawatiran yang timbul itu semata ada karena dia ragu apakah aku bertanggung jawab untuk dapat istiqomah berjuang. Tentu pikiran yang wajar untuk seorang buruh tani yang berpenghasilan rendah. Aku memaklumi, dan berjuang pula demi pengorbanan yang besar itu.

Ibu dan Bapakku: Reaksi Fusi Bagi Hidupku
Ibu dan Bapakku
Beliau berdua adalah guru tentang kesabaran, keuletan, ketegasan, dan juga guru tentang romantisme hidup.  Aku lahir dari kekuatan fusi yang mengagumkan. Bahwa tidaklah aku sekuat ini tanpa mereka.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ibu dan Bapakku: Reaksi Fusi Bagi Hidupku"

Post a Comment