Hujan di Senja

Air mengucur dari langit, membawa senja ke depanku. Gelap akan menyusup ke kamarku, lampu tak menyala, serasa tak ada yang ingin menemaniku dalam kesendirian. Kulihat makin deras, sederas keinginanku pergi dari kamar yang sempit ini. Sebelum banjir datang dan anganku hanyut bersamanya.

Hujan di Senja

Dinding warna biru, hampir tak ada property yang menghiasi, barang sebuah jam dinding pun. Sama sepinya seperti hatiku sekarang. Hujan yang deras mewakili airmataku.

Petir, aku lumayan alergi dengan teriakan langit itu. Tapi sekarang sudah terbiasa mendengarnya, begitu juga mendengar tariakan hatiku yang terkekang. Dunia menciut, gerakku terbatasi oleh dinding warna biru dan rasa takutku berontak pada keadaan statis ini. Mungkin ada dunia lain di sana yang belum kukenali.

Semoga saja aku menemukannya dan betah tinggal di sana. Susah memang mengubah diri dari cetakan awal, mengubah diri dari proses yang selambat lalu lintas waktu macet. Aku kalah metode pembentukan diri. Jadi serupa krupuk saat tercelup air, ya… kondisi-kondisi seperti ini bikin aku ngilu. Kadang menyalahkan: orang lain dan diri sendiri. Padahal ada banyak yang belum kulakukan. Andai saja tempurung ini tidak mengurungku, mungkin aku akan mengenal banyak orang, banyak tempat, aku pun bisa mengunjungi dari ujung ke ujung, semua penjuru dunia dan hati manusia. Ah, itu khayal.

Hujan masih turun, meraba dinding luar kamar, sudah lebih dari setengah yang basah. Sedangkan rumput kegirangan, dapat rejeki nomplok. Dan kucing kecil yang baru beberapa minggu lalu lahir, memasrahkan diri pada kenikmatan karpet, bersantai. Pasti dunianya begitu luas, sampai-sampai dia merasa lelah untuk menjelajahinya. Beda denganku yang malang.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hujan di Senja"

Post a Comment