Dalam Ketenangan, Aku Ingin Menaklukkan Kenakalanku

Di tengah suara-suara bising, ada suara kecil yang tersekap di dalamnya. Tak mampu kutangkap pesan yang ingin disampaikan. Berlarut-larut hingga malam berulangkali hinggap ke bumi. Suara yang begitu dekat, suara yang keluar dari gesekan logam-logam perilaku berkarat dengan dinding tipis yang menjaga kemurnian hidup. Dan dinding itu berlubang, menjadikan apa yang ada di dalamnya keluar, menciptakan dentuman keras, menyadarkanku betapa kehidupanku telah culik eforia liar.

Dalam Ketenangan, Aku Ingin Menaklukkan Kenakalanku

Tidak banyak memang yang mengerti: dari suara kecil yang amat lemah untuk sekadar menggetarkan gendang telinga, dan juga dari malam yang pekat, dari situ banyak harta karun kebijaksanaan yang tersimpan. Harta karun yang jauh lebih mahal dari apa yang terdengar dan terlihat.

Hidup dengan beribu keinginan, membiaskan pandanganku. Dunia ini menjadi amat luas untuk kujelajahi, menjadi teramat mahal untuk kuhargai, sementara keinginanku membuat aku miskin kearifan.

Dari semua yang aku dengar menghalangi suara kecil itu dalam menuntun langkahku, melenyapkan kekayaanku sendiri yang tak mungkin kudapati dari pasar-pasar euphoria dunia; itulah jati diri.

Aku merasa lumpuh, dan yang berkeliaran bukanlah diriku yang sebenarnya. Namun keinginanku yang amat mudah dikendalikan, dan tak kunjung cukup untuk mengumpulkan kata yang tepat untuk menerjemahkan hidup yang sebenarnya.

Adakalanya aku tersadar, ingin masuk ke dalam jantung malam, bersemedi di salah satu biliknya, biar bisa kudengar suara kecil yang lembut itu berdenyut, lalu menghantarkan makna demi makna ke seluruh pembuluh kesadaranku. Aku ingin mengerti apa yang ingin disampaikan. Letihku terlalu sering datang. Aku tuli, tak mendengar suaraku sendiri, suara yang kemudian menjadi asing bagiku, padahal telah lama menjerit dan tak kudengar.

Serupa kepingan logam saja aku, masing-masing dari kepingan itu lari dan menempel di berbagai magnet. Aku tak lagi bisa menjawab siapa sebenranya diriku. Aku tak mampu mendekap dikiriku secara utuh, aku telah disita dan menjadi tawanan; terlepas, tak lengkap lagi.

Hinggap dengan orang lain adalah sebab utama magnetku lemah. Aku kehilangan makna, padahal magnetkulah yang menyatukan energi itu, energi bagi terciptanya pemaknaan. Bukan justru menyerahkannya, karena mengikuti orang lainlah aku merasa tersesat, tak tahu diriku itu apa.

Seketika malam terasa indah, dan suara yang sebelumnya tak kudengar itu rupanya melodi yang harmonis, melodi yang membuatku takjub, lembut, pelan dan menyenangkan.

Makin kunikmati, makin banyak yang kurasa. Seperti aku menemukan aliran air di sungai yang dulu beku, lalu perlahan nyanyian itu terdengar, makin tahu bahwa di dalam diriku sendiri ada wisata yang jauh lebih indah dari fatamorgana yang kukagumi.

Tiap orang memiliki jalannya masing-masing, mengikutinya tidaklah salah. Namun terkadang langkah tak mampu mengimbangi gerak yang cepat, itu yang menyebabkan aku tersesat. Lalu, menemukan jalan sendiri jauh lebih nikmat, sesempit apapun jalan itu, karena jalan itu yang akan menunjukkan siapa sebenarnya diriku.

Dalam ketenangan, aku ingin menaklukkan kenakalanku yang telah tumbuh serupa belukar, dari tempat belukar itu tumbuh, akan menjulang kebijaksanaan yang rindang dan teduh. Jika saja aku berteduh di bawah dedaunan yang bukan milikku, di saat daun itu kering, maka bukan saja aku lenyap, namun tak ada makna yang lahir dari hidupku.

Maka orang lain kubiarkan menjatuhkan meteornya, biar ceruk-ceruk itu terbentuk, suatu saat nanti ketika hujan turun, ceruk-ceruk itu akan menjadi danau yang indah.

Aku ingin hidup di duniaku meskipun sempit, sempit itu sebenarnya akibat dari pelarian dari dunia yang tak terungkap betapa luasnya, betapa banyak harta karun yang tersimpan. Dan harta karun yang berharga adalah kebijaksanaan hidup.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dalam Ketenangan, Aku Ingin Menaklukkan Kenakalanku"

Post a Comment